METAFISIKA
Merupakan
filsafat pertama dan bidang filsafat yang palig utama. Bahasan dari metafisika
ialah keberadaan (being) atau
ekstensi (existence). Metafisika berasal
dari bahasa yunani, meta dan taphisica, dimana artinya yang ada di
balik atau di belakang benda benda fisik. Aristoteles menggunakan istilah proto philosophia (filsafat pertama) :
membuat uranian tentang sesuatu dibelakang gejala gejala fisik, seperti
bergerak, berubah, hidup dan mati.
Metafisika umum
(Ontologi)
Objek
telaan dari ontology ialah “yang ada”.
1.
Dualisme
Dualism
yaitu memandang alam ini menjadi dua macam hakikat sebagai sumbernya.
2.
Monoisme
Sedangkan
monoisme atau materialism memandang
bahwa sumber yang asal itu hanya tunggal.
3.
Idealism
dan aguosticisme
Idealism
memandang segala sesuatu serba cita atau serba utuh. Sedangkan aguosticisme
sebalikanya, mengingkari keanggupan manusia untuk mengetahui hakikat,
seperti yang dikehendaki oleh hakikat
metafisika.
Metafisika khusus
1.
Psikologi
dan antropologi
Psikologi
berasal dari bahasa yunani kuno, yaitu psyche
yang berarti jiwa dan logos yang
berarti ilmu. Fungsi dari psikologi yaitu :
a. Menjelaskan
Mampu
menjelaskan apa, bagaimana, dan mengapa tingkah laku itu terjadi. Hasil penjelasan
berupa deskripsi atau bahasan deskriptif.
b. Memprediksikan
Mampu meramalkan atau memprediksikan
apa, bagaimana, dan mengapa tingkah laku itu terjadi. Hasil prediksi berupa
prognosa, prediksi atau estimasi.
c. Pengendalian
Mengendalikan
tingkah laku sesuai dengan yang diharapkan. Terwujudnya berupa tindakan atau treatment.
Hakikat
manusia sebagai objek filsafat manusia meliputi 2 (dua) aspek, yaitu :
d. Manusia
ingin dipahami seekstensif atau
seluas mungkin.
e. Manusia
dipahami seintensif mungkin atau
sedapat mungkin.
2.
Kosmologi
Kosmologi berasal dari
bahasa inggris, yaitu cosmology; dari
bahasa yunani yaitu kosmos (dunia,
alam semesta) dan logos (ilmu). Adalah
ilmu yang memandang alam semesta sebagai suatu keseluruhan yang integral. Kosmologi
adalah ilmu yang mempelajari struktur dan sejarah alam semesta berskala besar.
3.
Teologi
Teologi berasal dari
bahasa yunani, theos, Allah, tuhan,
dan logia, kata kata, ucapan, atau
wacana. Teologi adalah wacana yang berdasarkan nalar mengenai agama,
spiritualitas, dan Tuhan. Teologi ilmu yang mempelajari segala sesuatu yang
berkaitan dengan keyakinan agama, meliputi segala sesuatu yang berhubungan
dengan Tuhan.
Metafisika sebagai
ilmu
Metafisika dapat dikatakan sebagai
ilmu manakala yang dimaksud ilmu ialah suatu penyelidikan yang dikaitkan dengan
sikap (attitude) dan metode tertentu.
Untuk dapat dikatakan sebagai ilmu pengetahuan yang ilmiah, penelitiannya harus
memenuhi beberapa kriteria yang telah dikembangkan oleh masyarakat ilmuwan social.
Kriteria atau ciri ini dapat membedakan riset ilmiah dari berpikir dengan akal
sehat (common sense) atau metode
metode penelitian spekulatif yang bersifat teoretis saja. Dikarenakan hal
tersebut riset ilmiah harus bersifat empiris. Yaitu bertumpu pada keyakinan
bahwa bukti harus didasarkan pada suatu pengamatan yang cermat.
Kriteria observasi empiric yang
bersifat ilmiah, testability (tingkat
kemampuan untuk diuji), falsifiability (dapat
disanggah), replicable (dapat
dipraktekkan oleh orang lain), publicness
(luasnya tingkat publikasi), self
correction (kemampuan untuk mengatasi kekeliruan), measureability (tingkat kemampuan untuk diukur), objectivity (bersifat objektif), skepticism (tidak mudah menerima
kebenaran), dan heuristic (memuat
nilai nilai yang layak untuk diteliti lebih lanjtu).
Ilmu pengetahuan dan akal sehat
Ilmu merupakan perpanjangan dari
pikiran akal sehat yang sistematis dan terkendali, karena pikiran adalah
serangkaian konsep dan pola konseptual (conseptual
schemes) yang memenuhi kebutuhan praktis umat manusia. Ini adalah pandangan
dari Conant. Akan tetapi konsep dan pola konseptual dapat menyesatkan ilmu
modern, khususnya psikologi dan pendidikan.
Perbedaan ilmu dan akal sehat
(berkisar pada kata “sistematik” dan “terkendali’:
a. Penggunaan
pola konseptual dan struktur teoritis.
Orang
awam memang menggunakan “teori’ dan “konsep”, tetapi biasanya dalam pengertian
longgar. Penjelasan yang “aneh atau khayal” (fanciful) tentang fenomena alamani dan insani sering diterma begitu
saja tanpa dipertanyakan secara mendalam.
b. Ilmuwan
secara sistematis dan empiris menguji teori teori dan hipotesisnya
c. Pengertian
tentang kendali atau control. Dalam penelitian ilmiah “control” dapat berarti
bermacam macam.
d. Mungkin
tidak begitu tajam.
Telah
dikatakan bahwa ilmuwan terus menerus terpancang pada hubungan atarfenomena. Demikian
pula orang kebanyakan menggunakan common
sense untuk menjelaskan fenomena. Akan tetapi, ilmuwan secara penuh sadat
kebanyakan tentang hubungan bersifat longgar, tidak sistematis, dan terkendali.
Misalnyam dua fenomena yang muncul secara kebetulan dan mendadak sering “disergap’
begitu saja segera dikaitkan sebagai sebab dan akibat (kajian Hurlock tentang reward/punishment).
e. Penjelasan
berlainan mengenai fenomena yang teramati.
Ilmuwan,
sementara berupaya menjelaskan hubungan hubungan atarfenomena yang teramati,
secara hati hati mengesampingkan apa yang dinamakan “penjelasan metafisik”
(proposisi yang tidak dapat diuji). Ilmu membicarakan segala sesuatu yang dapat
diamati dan diuji secara terbuka. Jika proposisi atau pertanyaan tidak mengandung
implikasi untuk pengamatan dan pengujian terbuka demikian, ia bukanlah
proposisi atau pertanyaan ilmiah.
a. Konsep
Adalah
seperangkat atau sekumpulan objek, orang, atau peristiwa yang memiliki atribut
atau ciri cir umum
b. Konstruk
Terdiri
dari konsep konsep ilmiah. Konstruk secara sengaja dibuat atau diadopsi oleh
ilmuan untuk tujuan ilmiah tertentu. Konstruk adalah konsep konsep yang
menyatakan hubungan Antara berbagai peristiwa, aspek, atau konstruk konstruk
lainnya.
c. Definisi operasional
Proses
definisi operasional mengharuskan untuk merinci secara konkret bagaimana
menyusun serta mengukur konstruk.
d. Variable
Adalah
konstruk konstruk yang terukur.
e. Masalah
Umumnya
penelitian komunikasi berawal dari adanya masalah teoritis atau konseptual
khusus. Biasanya masalah yang terbentuk tinggi mencerminkan rendahnya tingkat immediacy dan intimidacy.
f. Hipotesis
Tujuan
dari penelitian komunikasi banyaknya untuk menguji hipotesis penelitiannya
dengan menghubungkan variable variable penelitian.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar